Biografi Khalifah Umar bin Khattab RA


NAMA LENGKAP : 'Umar bin al-Khattab

GELAR : al-Faruq (Pemisah antara yang benar dan batil) - Amir al-Mu`miniin (Pemimpin Orang-Orang Beriman)

LAHIR : c.586-590 , Mekkah, Jazirah Arab

MENINGGAL : 7 November 644, Madinah, Jazirah Arab

DIMAKAMKAN : Sebelah kiri makam Nabi Muhammad, Al-Masjid al-Nabawi, Madinah

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan khalifah kedua islam pada periode 634 – 644 M. Beliau adalah satu di antara empat orang khilfah yang digolongkan sebagai khalifah yang diberi petunjuk atau yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin.

Biografi Khalifah Umar bin Khattab RA


Umar bin Khattab lahir di Kota Mekkah dari suku Bani Adi , adalah salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisy dan Ibunya Hantamah binti Hasyim berasal dari marga Bani Makhzum. Nabi Muhammad memberi gelar kepada Umar Bin Khattab sebagai Al-faruq, yaitu orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Pada saat sebelum memeluk agama islam , umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, Ia juga menjalankan tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah pada saat itu , yaitu mengubur putrinya hidup – hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Namun pada saat setelah memeluk islam di bawah Nabi Muhammad SAW, umar dikabarkan sangat menyesali perbuatannya dan menyadari kedobohannya saat itu, sebelum masuk islam umar juga dikenal sebagai seorang yang suka minum anggur dan merupakan peminum berat. Namun setelah menjadi muslim , ia tidak lagi menyentuh minuman beralkohol.

Dahulu umar merupakan orang yang menentang keras ajaran islam yang dibawah oleh Rasulullah SAW, kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Nabi Muhammad SAW.

Awal Memeluk Islam

Umar pernah memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad SAW, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi Muhammad SAW bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang ingin dibunuhnya saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8, ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya.

Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal ini membuat masyarakat Mekkah terkejut karena seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam menyiksa para pengikut Nabi Muhammad SAW kemudian memeluk ajaran yang sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Kehidupan di Madinah

Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Nabi Muhammad SAW dan pemeluk Islam lain berhijrah ke Madinah. Beliau juga telah mengikuti perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Ia disegani oleh kaum Muslim karena reputasinya sebelum dan setelah masuk islam yang terkenal. Beliau juga merupakan orang terdepan yang selalu membela Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam pada setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama menyiksa para pengikutnya Nabi Muhammad SAW.

Menjadi khalifah

Sebelum menjadi khalifa, umar merupakan penasehat Abu Bakar yang saat itu menjabat sebagai khalifah. Beliau ditunjuk menggantikan Abu Bakar setelah wafatnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Masa pemerintahannya, kekuasaan Islam tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar. Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.

Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.

Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Wafatnya

Umar bin Khattab wafat kaerna dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar karena sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah belia wafat, jabatan khalifah kemudian diteruskan ole salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Usman bin Affan.

Wasiat

Wasiat yang ditinggalkan umar semasa hidupnya :

1. Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.

2.Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

3.Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.

4.Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.

5.Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.

6.Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Biografi Liliyana Natsir - Pemain Bulu Tangkis Ganda Indonesia

Biografi Liliyani Natsir - Pemain Bulu Tangkis Ganda Indonesia


Nama Lengkap : Lilyana Natsir
Alias : Butet
Profesi : Olahragawan
Agama : Katolik
Tempat Lahir : Manado
Tanggal Lahir : Senin, 9 September 1985
Zodiac : Virgo
Hobby : Musik
Warga Negara : Indonesia

Biografi Liliyani Natsir - Pemain Bulu Tangkis Ganda Indonesia
 Liliyana Natsir - Pemain Bulu Tangkis Ganda Indonesia
Liliyana Natsir adalah anak bungsu dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis alias Auw Jin Chen. Dia memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Calista Natsir. Sejak duduk di sekolah dasar, Lilyana sudah bergabung dengan klub bulu tangkis Pisok, Manado. Pada tahun 1997, Lilyana yang berusia 12 tahun diterima masuk di PB Tangkas, Jakarta.

Liliyana  merupakan pemain Bulu Tangkis ganda indonesia, ia berpasangan dengan Tantowi Ahmad dalam nomor ganda campuran. Pada olimpiade Beijing 2008 ia berhasil merebut medali perak untuk nomor ganda campuran bersama Nova Widianto, dan berhasil merebut medali emas pada olimpiade Rio de Janeiro 2016 nomor ganda campuran berpasangan dengan Tantowi Ahmad.

Bersama Tantowi , ia berhasil meraih medali emas pada SEA Games 2011. Liliyana sudah tiga kali menjadi juara final kejuaraan All England, merupakan salah satu turnamen tertua. Pada tahun 2008, Liliyana yang berpasangan dengan Nova Widianto ditaklukkan pasangan China, Zheng Bo/Gao Ling lewat permainan tiga gim, 21-18, 14-21, 9-21. Pasangan nomor satu dunia Zhang Nan/Zhao Yunlei yang juga berasal dari China kembali memupuskan harapan Nova/Liliyana untuk menjadi juara All England pada tahun 2010. Mereka harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor tipis, 18-21, 25-23, 18-21. Lilyana yang dikenal sebagai atlet yang ramah, disiplin, dan berkemauan keras ini akhirnya berhasil mendapatkan gelar juara pada turnamen All England. Pada tahun 2012 Lilyana Natsir dan Tontowi Ahmad membawa pulang gelar juara untuk Indonesia yang telah mengalami penantian panjang selama 33 tahun untuk prestasi ganda campuran All England.

Liliyana Natsir dan Tantowi Ahmad
Liliyana Natsir dan Tantowi Ahmad
Gelar terakhir Indonesia dipersembahkan oleh pasangan Christian Hadinata dan Imelda Wiguna pada tahun 1979. Gelar juara ini adalah titel premier pertama bagi Tontowi & Liliyana. Sebelumnya pasangan ini pernah mejuarai dua gelar superseries di India dan Singapura, serta dua gelar grand prix gold di Malaysia dan Macau. Setahun kemudian di All England 2013, mereka berhasil mempertahankan gelar juara setelah mengalahkan pasangan China, Zhang Nan/Zhao Yunlei, dengan straight set 21-13 21-17. Sukses yang sama kembali mereka raih pada tahun 2014 dengan menaiki podium tertinggi ganda campuran All England usai menuntaskan perlawanan Zhang Nan/ Zhao Yunlei di final dengan skor sama, 21-13 21-17. Pada ajang Kejuaraan Dunia bulu tangkis, Lilyana, yang akrab disapa Butet ini merupakan pemain putri pertama Indonesia yang berhasil merebut tiga gelar di ajang bergengsi tersebut. Pada tahun 2005, ketika masih berpasangan dengan Nova Widianto dia berhasil mengalahkan pasangan negeri tirai bambu, Xie Zhongbo/ Zhang Yawen, dengan skor 13-15 15-8 15-2. Pada tahun 2007, mereka kembali meraih gelar juara untuk kedua kalinya dengan mengalahkan pasangan China lainnya di final, Zheng Bo/ Gao Ling, dengan skor 21-16 21-14. Sementara pada tahun 2013 dengan partner yang berbeda Tontowi Ahmad, Lilyana berhasil merengkuh gelar juara dunia untuk ketiga kalinya setelah mengalahkan pasangan China, Xu Chen/Ma Jin, dengan pertarungan tiga gim, 21-13 16-21 22-20. Pada Olimpiade Musim Panas 2016, Lilyana bersama Tontowi Ahmad berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan pasangan Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dengan skor 21-14 21-12.




Biografi Abu MUDI (Tgk Haji Hasanul Basri HG) Samalanga

Tgk Haji Hasanul Basri Atau Lebih dikenal dengan ABuMUDI  Beliau lahir didesa Uteun Geulinggang Kecamatan  Krueng Geukueh Kabupaten Aceh Utara pada tanggal 21 Juni 1949 Masehi atau pada tanggal 26 Sya`ban 1368 Hijriah. 

Beliau Adalah Putra tertua dari Dua bersaudara,dari pasangan  Tgk H Gadeng dan Ummi Manawiyah,dengan Kehidupan Yang berlatar Belakang agama yang tinggi serta disiplin yang ayah beliau tanamkan sejak kecil membuat pribadi Abu MUDI menjadi Sosok Yang Sangat Mencintai Agama,Serta tekun Dalam Mempelajari Agama Islam.
Disaat usia beliau 29 tahun, beliau menikah dengan putri sulung Abon Aziz, yang bernama Ummi Shalihah dan beliau dikaruniai Anak tujuh Orang :

Zahrul Fuadi Mubarrak
Zahrah Mahfudhah
Nurul A'la Rabi'ah 'Adawiyah
Muhammad Thaifur
Muhammad Abrar Azizi
Abdul Muhaimin

Beliau dipercayakan memegang tampuk kepemimpinan dayah samalanga setelah Mertuanya Abon Aziz Meninggal dunia pada tahun 1989.Dalam kepemimpinan beliau Dayah MUDI MESRA mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan jumlah santri yang mencapai 6000 orang dan gedung asrama yang sudah bertingkat lima.Juga pada masanya berdiri Satu sekolah tinggi yang bernama Sekolah tinggi Agama islam Al-Aziziyah yang sekarang berobah menjadi INSTITUT AGAMA ISLAM AL-AZIZIYAH.

Biografi Abu MUDI (Tgk Haji Hasanul Basri HG) Samalanga
Abu MUDI (Tgk Haji Hasanul Basri HG)

Jabatan-Jabatan yang pernah di embannya yaitu :

  • Pimpinan Dayah MUDI MESJID RAYA Samalanga
  • Penasehat Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA)
  • Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) menggantikan Abu Panton.
  • Ketua Syuriyah Nahdhatul Ulama (NU) Kab. Bireuen
  • wakil ketua Syuriyah Nahdhatul Ulama (NU) wilayah Nanggroe Aceh Darussalam,
  • Dewan Majelis Syuyukh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Nanggro Aceh Darussalam sejak tahun 2003 sampai sekarang
  • Dan lainnya yang tidak kami ketahui.

Dalam meminpin dayah MUDI MESRA beliau telah berhasil Mendidik Santri-santri yang handal sebagai pengganti beliau yang mereka semua ada yang masih menetap didayah dan ada juga yang kembali kekampung halaman dan mendirikan dayah-dayah untuk menyiarkan ilmu yang telah mereka dapatkan di MUDI MESRA samalanga 

Biografi Lengkap Annisa Pohan

Biografi Lengkap Annisa Pohan - Annisa Larasati Pohan, S.E., M.M. (lahir di Boston, Amerika Serikat, 20 November 1981 adalah seorang model Indonesia. Ia pernah menjuarai ajang pemilihan Gadis Shampo 2001. Sebelumnya, ia menjadi finalis GADIS Sampul 1997.

Biografi Lengkap Annisa Pohan
Annisa Pohan
Dua gelar itu mengantar gadis pemilik tinggi tubuh 164 sentimeter itu ke panggung selebriti. Ia langsung dikontrak sebagai model iklan. Tak hanya sebagai model, Annisa merambah dunia broadcasting sebagai penyiar radio OZ, Bandung. Ia juga pernah menjadi presenter acara Bundesliga di RCTI. Ia juga adalah putri kedua dari Deputi Gubernur BI, Aulia Pohan.

Annisa Larasati Pohan adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan satu-satunya perempuan, dengan ayah Aulia Pohan berasal dari Sumatera Utara dan ibu Mulyaningsih dari Jawa Timur. Ayahnya Aulia Pohan adalah mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Lahir di Boston, Amerika Serikat dan kemudian mengikuti sang ayah yang bertugas ke Tokyo, Jepang selama beberapa tahun. Selanjutnya tinggal di Jakarta dari SD sampai lulus dari SMU 70 Bulungan. Meraih gelar sarjana ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Saat ini Annisa sedang menempuh pendidikan Master di Magister Manajemen Universitas Indonesia.

Pengalamannya antara lain: GADIS Sampul 1997, Gadis tiara sunsilk 2001, Penyiar Radio OZ 103.1FM, Bandung, model iklan, Presenter Sport RCTI dalam membawakan Bundesliga, La Liga, Celebrity Jam, Good Morning on the Weekend, maupun acara hiburan lainnya, serta juga menjadi MC berbagai acara. Annisa saat ini menjadi Brand Ambassador berbagai produk, seperti Alleira Batik dan Blackberry.

Pada awal Juli 2005, ia menikah dengan Agus Harimurti Yudhoyono seorang perwira TNI AD yang juga putra pertama dari presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah menikah Annisa sempat vakum beberapa saat dari dunia model karena mengikuti suaminya yang mendapat tugas pendidikan menempuh pendidikan master di Nanyang Technological University pada tahun 2005 selama satu tahun. Kemudian kembali ke Indonesia pada tahun 2006 dan dan kembali mengabdi menjadi istri prajurit dengan aktif di Organisasi Persit Kartika Chandra Kirana.

Pada tanggal 17 Agustus 2008, tepat di Hari Kemerdekaan ke-63, Annisa melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Almira Tunggadewi Yudhoyono melalui operasi caesar.

Annisa Pohan adalah pendiri Yayasan Tunggadewi, yaitu yayasan yang peduli terhadap wanita dan anak-anak. Yayasan Tunggadewi didirikan pada tahun 2009 ( www.tunggadewifoundation.org ) dan telah berhasil mengembangkan pusat-pusat belajar informal gratis untuk anak-anak dan Ibu mereka, diantaranya Rumah Pintar dan Jendela Dunia.

Annisa Pohan dan Suami
Annisa Pohan dan Suami 
Pada tahun 2009 Annisa mengikuti suami ke USA ketika suaminya mengambil gelar Master of Public Administration di John F. Kennedy School of Government Harvard, Massachusetts, US dan Captain Career Course di Fort Benning, US. Bulan Tahun 2011 Annisa dan keluarga kembali ke Indonesia.

Sekembali Annisa ke Indonesia, pada tahun yang sama di 2011 , Annisa mendaftar dan diterima sebagai Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Indonesia (MMUI). Annisa menyelesaikan pendidikan S2 selama 18 Bulan dan meraih gelar Magister Manajemen (MM) dengan Indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,98 sehingga mendapatkan predikat SUMMA CUM LAUDE.

Annisa Masih aktif menjadi duta produk-produk seperti Olay dan Alleira batik.



Biografi Lengkap Sri Mulyani Indrawati

Biografi Lengkap Sri Mulyani Indrawati merupakan wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini diembannya mulai 1 Juni 2010. Sebelumnya, ia menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu.
Dia praktis meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan, saat berkantor di Kantor Bank Dunia.

Biografi Sri Mulyani Indrawati
Sri Mulyani Indrawati
Sebelum menjabat Menteri Keuangan, ia menjabat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. Wanita yang akrab dengan panggilan Mbak Ani tersebut merupakan ekonom yang sering kali tampil di panggung – panggung seminar atau dikutip di berbagai media massa. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) ini juga sempat aktif menjadi penasehat pemerintah bersama sejumlah ekonom terkemuka lain dalam wadah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid. Dia halnya di Indonesia, di Amerika ia juga sering kali mengikuti seminar, namun lebih banyak persoalan internasional ketimbang di Indonesia.

Komentar dan analisisnya kritis, lugas, jernih dan populer. Selain sering muncul di seminar-seminar, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) ini juga sempat aktif menjadi penasihat pemerintah bersama sejumlah ekonom terkemuka lain dalam wadah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid. Ia pernah menjabat Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998.

Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Kepribadiannya yang lugas dan cerdas, telah mengantarkannya kepada pergaulan yang sangat luas. Ia disenangi banyak orang di dalam dan luar negeri. Tak heran bila pada awal Oktober 2002 lalu ia terpilih menjadi Executive Director Dana Moneter Internasional (IMF) mewakili 12 negara di Asia Tenggara (South East Asia/SEA Group), menggantikan Dono Iskandar Djojosubroto. Dia menjadi perempuan pertama dari Indonesia menduduki posisi itu.

PENDIDIKAN

  • Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia Sarjana Ekonomi (1981 – 1986)
  • University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A Master of Science of Policy Economics  (1988 – 1990 )
  • University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A Ph. D of Economics (1990 –  1992 )


KARIR

  • Direktur Pelaksana Bank Dunia (1 Juni 2010-sekarang)
  • Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu
  • Executive Director IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara (2002-2004).
  • Konsultan USAid di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (2001-2002)
  • Dewan Ekonomi Nasional (1999-2001)
  • Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI), Juni 1998 – Sekarang
  • Nara Sumber Sub Tim Perubahan UU Perbankan, Tim Reformasi Hukum – Departemen Kehakiman RI, Agustus 1998 s/d Maret 1999.
  • Tim Penyelenggara Konsultan Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional Tahun 1999 – 2000, Kelompok Kerja Bidang Hukum Bisnis, Menteri
  • Kehakiman Republik Indonesia,  15 Mei 1999 – Sekarang
  • Anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI, Juni 1998 s/d sekarang.
  • Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI-TVRI XXXI, Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial, Kebudayaan dan Kemanusiaan, terhitung 1 April 1999 - Sekarang
  • Redaktur Ahli Majalah bulanan Manajemen Usahawan Indonesia, Agustus 1998 – Sekarang
  • Anggota Komisi Pembimbing mahasiswa S3 atas nama Sdr. Andrianto Widjaya NRP. 95507 Program Doktor (S3) Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Institute  Pertanian Bogor, Juni 1998
  • Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), 1996 – 2000
  • Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik-UI, 1996-Maret 199
  • Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI, Mei 1995 – Juni 1998
  • Wakil Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan LPEM FEUI, 1993 – Mei 1995
  • Research Associate, LPEM FEUI, 1992 – Sekaran
  • Pengajar Program S1 & Program Extension FEUI, S2, S3, Magister
  • Manajemen Universitas Indonesia, 1986 – Sekarang
  • Anggota Kelompok Kerja – GATS Departemen Keuangan, RI 1995
  • Anggota Kelompak Kerja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan – BKKBN, 1995
  • Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk, Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN, Mei – Desember 1995
  • Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS, 1994 – 199
  • Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA, 1990 – 1992
  • Asisten Pengajar Fakultas Ekonomi – Universitas Indonesia, 1985 – 1986
  • Research Demand for Housing, World Bank Project, 1986
  • Kompetisi Perbankan di Jakarta/Indonesia, BNI 1946, 1987
  • Study on Effects on Long-term Overseas Training on Indonesia
  • Participant Trainees. OTO Bappenas – LPEM FEUI, 1998
  • Penyusunan Study Dampak Ekonomi Sosial Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan – LPEM FEUI, 1992
  • Survei Pemasaran Pelumas Otomotif Indonesia. Pertamina – LPEM FEUI, 1993
  • The Prospect of Automotive Market and Factors Affecting Consumer Behavior on Purchasing Car. PT. Toyota Astra – LPEM FEUI, 1994
  • Inflasi di Indonesia : Fenomena Sisi Penawaran atau Permintaan atau keduanya. Kantor Menko Ekuwasbang – Bulog – LPEM FEUI, 1994
  • Restrukturisasi Anggaran Daerah. Departemen Dalam Negeri – LPEM FEUI, 1995
  • The Evaluation of Degree and non degree training – OTO Bappenas, 1995
  • Fiscal Reform in Indonesia : History and Perspective, 1995
  • Potensi Tabungan Pelajar DKI Jakarta. Bank Indonesia – LPEM FEUI, 1995
  • Studi Rencana Kerja untuk Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional, Departemen Pariwisata, Pos & Telekomunikasi – LPEM FEUI, 1996
  • Interregional Input-Output (JICA Stage III), 1996
  • Studi Kesiapan Industri Dalam Negeri Memasuki Era Perdagangan Bebas, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, LPEM FEUI, 1997
  • Penyusunan Rancangan Repelita VII. Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 1997
  • Indonesia Economic Outlook 1998/1999. Indonesia Forum 1998
  • Country Economic Review for Indonesia. Asian Development Bank, 1999

PENGHARGAAN
  • Wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007
  • Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets

Biografi Lengkap Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi

Biografi Lengkap Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi  lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944.  ia merupakan  salah satu tokoh dan intelektual Islam utama Indonesia yang pernah menjabat ketua pengurus besar Nahdlatul Ulama dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden semenjak 19 Januari 2015.

Biografi Lengkap Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi
Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi 
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang ini sempat mengenyam Pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor  dari 1956 hingga 1962.

Hasyim muda mencapai pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada 1950, dan menyelesaikan pendidikan tinggi pada Institut Agama Islam Negeri Malang, Jawa Timur pada 1969.
Pada 1992 ia terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang tujuh tahun kemudian menjadi Ketua PBNU pada 1999.

Suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi Anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada 1986 saat masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan.

Muzadi pernah menjadi pendamping Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia seawal November 2003. Dia maju bersama Megawati pada 6 Mei 2004.Dalam pemilihan Umum Presiden Indonesia 2004. Megawati dan Muzadi meraih 26.2% suara di putaran pertama, tapi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.

Di dunia akademik, Muzadi sempat menulis beberapa buku, di antaranya adalah Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999, NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999, dan Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002.


K.H. Hasyim Muzadi meninggal pada 16 Maret 2017 di Malang, Jawa Timur pada pukul 06.15 WIB

Biografi Lengkap Ahok Basuki Tjahaja Purnama

Biografi Lengkap Ahok Basuki Tjahaja Purnama

Biografi Lengkap Ahok Basuki Tjahaja Purnama
Basuki Tjahaja Purnama
Profil dan Biografi Lengkap Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan panggilan Ahok , merupakan Gubernur DKI Jakarta, melalui rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta pada 14 November 2014, ia secara resmi diumumkan menjadi Gubernur  DKI Jakarta pengganti Joko Widodo.

Ahok merupakan warga Negara Indonesia dari etnis Tioghoa , ia juga pemeluk agama Kristen Protestan pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Basuki pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI dari 2012-2014 mendampingi Joko Widodo sebagai Gubernur. Sebelumnya Basuki merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012. Dia pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur.

Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama, Bupati Kabupaten Belitung Timur (Beltim) periode 2010-2015. Dalam pemilihan gubernur Jakarta 2012, mereka memenangkan pemilu dengan presentase 53,82% suara. Pasangan ini dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 10 September 2014, Basuki memutuskan keluar dari Gerindra karena perbedaan pendapat pada RUU Pilkada. Partai Gerindra mendukung RUU Pilkada sedangkan Basuki dan beberapa kepala daerah lain memilih untuk menolak RUU Pilkada karena terkesan "membunuh" demokrasi di Indonesia.

Pada tanggal 1 Juni 2014, karena Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengambil cuti panjang untuk menjadi calon presiden dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, Basuki Tjahaja Purnama resmi menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Setelah terpilih pada Pilpres 2014, tanggal 16 Oktober 2014 Joko Widodo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Secara otomatis, Basuki menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Basuki melanjutkan jabatannya sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta tanpa dukungan partai (independen)  hingga pun dirinya dilantik sebagai Gubernur DKI pada 19 November 2014.

Latar belakang dan keluarga Ahok

Basuki adalah putra pertama dari Alm. Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) dan Buniarti Ningsing (Boen Nen Tjauw). Ia lahir di Belitung Timur, Bangka Belitung pada tanggal 29 Juni 1966. Basuki memiliki tiga orang adik, yaitu Basuri Tjahaja Purnama (dokter PNS dan Bupati di Kabupaten Belitung Timur), Fifi Lety (praktisi hukum), Harry Basuki (praktisi dan konsultan bidang pariwisata dan perhotelan). Keluarganya adalah keturunan Tionghoa-Indonesia dari suku Hakka (Kejia).

Ahok dan Istri (Veronica Tan )
Ahok dan Istri (Veronica Tan ) 

Masa kecil Basuki lebih banyak dihabiskan di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, hingga selesai menamatkan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama. Setamat dari sekolah menengah pertama, ia melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Di Jakarta, Basuki menimba ilmu di Universitas Trisakti dengan jurusan Teknik Geologi di Fakultas Teknik Mineral. Selama menempuh pendidikan di Jakarta, Ahok diurus oleh seorang wanita Bugis beragama Islam yang bernama Misribu Andi Baso Amier binti Acca. Setelah lulus dengan gelar Insinyur Geologi, Basuki kembali ke Belitung dan mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah pada tahun 1989.

Ahok dan Keluarga
Ahok dan Keluarga 

Pendidikan  Ahok Basuki Tjahaja Purnama

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, Basuki melanjutkan studinya di jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Trisakti dan mendapatkan gelar Insinyur pada tahun 1990. Basuki menyelesaikan pendidikan magister pada Tahun 1994 dengan gelar Master Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya.

Karier bisnis Ahok Basuki Tjahaja Purnama

Pada tahun 1992 Basuki mengawali kiprahnya di dunia bisnis sebagai Direktur PT Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 1995. Pada tahun 1995, Basuki memutuskan berhenti bekerja di PT Simaxindo Primadaya.Ia kemudian mendirikan pabrik di Dusun Burung Mandi, Desa Mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur. Pabrik pengolahan pasir kuarsa tersebut adalah yang pertama dibangun di Pulau Belitung, dan memanfaatkan teknologi Amerika dan Jerman.Lokasi pembangunan pabrik ini adalah cikal bakal tumbuhnya kawasan industri dan pelabuhan samudra, dengan nama Kawasan Industri Air Kelik (KIAK).

Pada akhir tahun 2004, seorang investor Korea berhasil diyakinkan untuk membangun Tin Smelter (pengolahan dan pemurnian bijih timah) di KIAK. Investor asing tersebut tertarik dengan konsep yang disepakati untuk menyediakan fasilitas komplek pabrik maupun pergudangan lengkap dengan pelabuhan bertaraf internasional di KIAK

Basuki menikah dengan Veronica, kelahiran Medan, Sumatera Utara, dan dikaruniai 3 orang putra-putri bernama Nicholas Sean Purnama, Nathania, dan Daud Albeenner.

Nama panggilan "Ahok" berasal dari ayahnya.Mendiang Indra Tjahja Purnama ingin Basuki menjadi seseorang yang sukses dan memberikan panggilan khusus baginya, yakni "Banhok". Kata "Ban" sendiri berarti puluhan ribu, sementara "Hok" memiliki arti belajar.Bila digabungkan, keduanya bermakna "belajar di segala bidang." Lama kelamaan, panggilan Banhok berubah menjadi Ahok.
Penghargaan
Basuki memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara negara dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi Indonesia, KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, pada tanggal 1 Februari 2007. Ia dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah, antara lain dengan tindakannya mengalihkan tunjangan bagi pejabat pemerintah untuk kepentingan rakyat, yaitu untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Belitung Timur. Ia juga terpilih menjadi salah seorang dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia, yang dipilih oleh Tempo.

Basuki kembali mendapat penghargaan anti korupsi dari Bung Hatta Anti Corruption Award, yang diterimanya pada tanggal 16 Oktober 2013. Ia mendapat penghargaan ini karena usahanya membuka laporan mata anggaran DKI Jakarta untuk dikaji ulang.

Anugerah Seputar Indonesia (ASI) 2013 memberikannya gelar Tokoh Kontroversial.
Kontroversi

Dalam kariernya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Basuki telah memicu berbagai macam kontroversi yang kebanyakan disebabkan oleh pernyataannya. Beberapa di antaranya adalah kontroversi lahan Rumah Sakit Sumber Waras, penertiban Kalijodo, tuduhan mencap warga sebagai "komunis", penggunaan kata-kata kasar, dan pernyataannya terkait dengan "dibohongi pake surah Al-Maidah 51" yang memicu tanggapan keras berupa rangkaian Aksi Bela Islam.

Nama Lengkap
Basuki Tjahaja Purnama
Lahir
29 Juni 1966 (umur 50), Manggar, Belitung Timur
Partai politik
PPIB (2004–08)
P. Golkar (2008–12)
P. Gerindra (2012–14)
Suami/istri
Veronica Tan, S.T.
Alma mater
Universitas Trisakti
STIE Prasetiya Mulya


Biografi Lengkap Teungku Nyak Arif - Pahlawan Nasional dari Aceh

Biografi Lengkap Teungku Nyak Arif Namanya telah menunjukkan, bahwa Teuku Nyak Arif seorang bangsawan Aceh. Ia dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee-lee, Banda Aceh. Ayahnya, Teuku Nyak Banta yang nama lengkapnya Teuku Sri Imeum Nyak Banta, Panglima (kepala daerah) Sagi XXVI Mukim. Ibunya bernama Cut Nyak Rayeuh, bangsawan di daerah Ulee-lee pula. Teuku Nyak Arif adalah anak ketiga dari lima orang saudara sekandung, 2 laki-laki dan 3 perem-puan. Saudara tirinya yang dilahirkan dari 2 orang isteri ayahnya yang lain, 3 perempuan dan 2 laki-laki.

Biografi Lengkap Teungku Nyak Arif - Pahlawan Nasional dari Aceh
Teungku Nyak Arif - Pahlawan Nasional dari Aceh
Teuku Nyak Arif, setelah menamatkan Sekolah Dasar di Banda Aceh pada tahun 1908, meneruskan ke Sekolah Guru (Kweekschool) di Bukittinggi jurusan pangrehpraja, kemudian melanjutkan ke OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren = Sekolah calon pangrehpraja) di Banten, tamat tahun 1915. Ia memang disiapkan sebagai pegawai pamongpraja untuk menggantikan ayahnya sebagai Panglima Sagi XXVI. Sebenarnya sejak 1911 ia sudah mewarisi kedudukan itu, namun karena masih terlalu muda, ayahnyalah yang mewakilinya hingga 1919.

Sejak kecil Nyak Arif sudah tampak cerdas dan berwatak berani dan keras. Ia membenci Belanda karena menganggapnya bangsa itu penjajah negerinya yang membawa kesengsaraan rakyat Aceh. Sejak kecil ia sudah mengenal sumpah sakti orang Aceh, "Umat Islam boleh mengalah sementara, tetapi hanya sementara saja dan pada waktunya umat Islam harus melawan kembali". Kebenciannya kepada Belanda itu menyebabkan ia ber-sikap melawan. Ia tidak mau menerima tunjangan f 10,— setiap bulan yang disediakan pemerintah untuk anak-anak Aceh yang belajar di luar Aceh. Di sekolahan ia tidak mau tunduk kepada perintah gurunya, misalnya untuk menghapus tulisan di papan tulis dan sebagainya.

Kegemarannya, bermain sepakbola dan menjadi bintang lapangan, baik di Banda Aceh mau pun kemudian di Bukittinggi. Pada tahun 1935 ia dipilih menjadi ketua dari Persatuan Sepak-Bola Aceh (Acehse Voetbalbond). Keahliannya di dalam kesenian, sebagai pemain bola.

Teuku Nyak Arif kawin dengan puteri Teuku Maharaja, kepala daerah di Lhok Seumawe. Perkawinan itu oleh mertuanya akan dirayakan secara besar-besaran seperti lazimnya di kalangan bangsawan Aceh, namun Nyak Arif menolak. Ia minta perkawin-annya dilaksanakan dengan sederhana dan sang mertua pun ter-paksa menurutinya. Perkawinan itu tidak berlangsung lama. Suami isteri bercerai sebelum dikaruniai anak. Kemudian Nyak Arif Kawin dengan pemudi Jauhari, berpendidikan MULO (SMP Belanda) anak mantri polisi Yazid, asal Minangkabau. Suami isteri hidup teratur dengan disiplin keluarga yang mampu mem-bawanya ke jenjang kebahagiaan. Mereka dikarunia 3 orang anak, 2 laki-laki dan yang bungsu wanita. Anaknya mula-mula di-sekolahkan pada Sekolah Rendah Belanda (ELS), namun kemu-dian 2 orang puteranya dipindahkan ke Taman Siswa, dan si bungsu bersekolah Muhammadiyah. Tentang sekolah anak-anak-nya itu sudah memberikan petunjuk, bahwa Teuku Nyak Arif seorang yang berpandangan maju dan memiliki sifat-sifat sebagai nasionalis.

Nyak Arif memang seorang nasionalis Indonesia yang mengikuti faham nasionalisme NIP (Nederlandsch Indische Partij) pimpinan trio Dr. E.F.E. Douwes Dekker (Setiabudhi Danudirja), Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Pada tahun 1919 ia menjadi anggota NIP, bahkan ketua cabang Banda Aceh. Sebagai seorang nasionalis ia selalu memihak kepada rakyat, mengikuti jejak pengarang mashur Max Havelaar (Eduard Douwes Dekker residen Lebak, Jawa Barat) dengan karyanya yang mengungkap kekejaman Belanda di zaman tanam-paksa (cultuurstelsel). Karena fanatiknya kepada Max Havelaar, maka di kalangan kaum terpelajar ia mendapat nama panggilan Max. Nama ini terkenal di kalangan NIP dan Aceh Vereniging (Syarekat Aceh) yang diketuainya dan bergerak di bidang sosial.

Sebagai Panglima atau kepala daerah Sagi XXVI sikapnya tegas dan keras. Ia senantiasa menjalankan peraturan pemerintah dengan kebijaksanaan dan memperhatikan kepentingan rakyat, dalam arti memberikan keringanan-keringanan kepada beban yang harus ditanggung oleh masyarakat. Sebagai Panglima Sagi XXVI ia bertempat tinggal di Lam Nyong. Ia terkenal giat di dalam masyarakat. Berbagai gerakan ia ikuti. Kecuali Muham-madiyah dan Taman Siswa, ia lebih dulu membantu berdirinya JIB (Jong Islamietan Bond) di Banda Aceh dan Jong. Sumatranen Bond (Pemuda Sumatera). Kebijaksanaannya didukung oleh ke-cakapannya mempertemukan dan merukunkan golongan muda, dan tua dan golongan ulama dan bangsawan. Yang terakhir ini, perbedaaan pendirian kaum ulama dan kaum bangsawan, me-rupakan ciri khas masyarakat Aceh. Dan Nyak Arif berhasil mengatasi kesulitan itu hingga tercapai persesuaian yang laras, khususnya dalam mengabdi kepada masyarakat dan agama.

Di Aceh Teuku Nyak Arif tercatat sebagai orang yang ter-kemuka, mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat. Kecakapannya sebagai orang keluaran OSVIA tampak menonjol, terutama didukung oleh keberaniannya menghadapi pembesar-pembesar Belanda. Oleh karena itu pada tanggal 16 Mei 1927 atas usul residen Aceh ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Di samping itu pekerjaannya sebagai Panglima Sagi XXVII tetap ia jalankan dengan baik. Sebagai anggota Volksraad ia lebih banyak tinggal di Aceh daripada di Jakarta.

Di sidang-sidang Volksraad ia selalu menunjukkan kecakap-an dan keberaniannya terutama dalam mengeritik kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda. Lebih khusus lagi ketangkasannya menghadapi orang-orang Belanda anggota-anggota Volksraad yang reaksioner. Seringkali nama Teuku Nyak Arif muncul dalam laporan-laporan perdebatan di Volksraad di dalam surat-suratkabar. Ia terpuji sebagai, "anak Aceh yang berani dan lurus" seperti ditulis dalam laporan harian Bintang Timur. Ia mampu menandingi jago-jago bicara Belanda terkenal di Volksraad seper-ti Mr. Drs. Fruin, Lighart dan Zentgraaf, wartawan ulung yang amat terkenal pada zamannya. Ucapannya yang dihadapkan kepada lawan dan kepada pemerintah antara lain, "Orang yang sopan tidak akan mencoba menekan hak rakyat".

Pada tanggal 27 Januari 1930 di dalam Volksraad di umum-kan oleh Moh. Husni Thamrin, berdirinya Fraksi Nasional sebagai reaksi tindakan kejam Belanda terhadap pergerakan nasional PNI (Partai Nasional Indonesia) dengan penangkapan-penangkapan pemimpin-pemimpinnya dan sebagai kelompok yang sanggup me-nandingi golongan Belanda yang terhimpun dalam Vaderlandsche Club (Cinta Tanah Air Belanda). Fraksi Nasional itu diketuai oleh Moh. Husni Thamrin dengan anggota-anggota, Kusumo Utoyo, Dwijowewoyo, Datuk Kayo, Muchtar, Teuku Nyak Arif Suangkupun, Pangeran Ali dan R.P. Suroso.

Di dalam Fraksi Nasional itu pun Nyak Arif cukup menonjol. Dalam sidang Volksraad tanggal 18 Juni 1928 ia menjelaskan pen-diriannya tentang Persatuan Indonesia, antara lain sebagai berikut:

"Jikalau kita membicarakan keadaan politik di negeri ini haruslah memakai kata Indonesia. Ada juga pemimpin Indonesia segan memakai kata Indonesia itu. Kata Indonesia mengandung suatu kebangsaan dan bukan sesuatu yang hampa dan impian. Dasar pembentukan kebangsaan itu adalah, bahasa, kesenian dan hukum tanah. Dasar-dasar itu harus dikembangkan ke arah kesatuan kebangsaan, sebagai salah satu syarat untuk mencapai kemer-dekaan kenegaraan (Staatkundige vrijheid) Sebelum meninggalkan mimbar ini, sekali lagi saya ingin menun-jukkan kepada bangsaku yang terhormat pada kenyataan, bahwa mereka dalam batas-batas hukum secara mutlak dapat berjalan bersama untuk mewujudkan cita-cita; dengan melalui persatuan In-donesia mencapai kemerdekaan nasional."

Dalam tahun 1931 berakhirlah keanggotaan Teuku Nyak Arif dalam Volksraad. Ia kembali ke pekerjaannya sekaligus giat dalam perjuangan rakyat di Aceh. Berbagai langkah dan tin-dakannya senantiasa menuju kepentingan dan keringanan rakyat, bahkan pembelaan terhadap nasib rakyat kecil. Sekalipun keja-dian tidak di wilayah kekuasaannya, namun Nyak Arif tidak segan-segan bertindak. Dialah satu-satunya Ulebalang (Panglima) yang amat disegani baik oleh rekan-rekannya maupun oleh Belan-da. Pajak nipah yang hendak dikenakan di daerah bukan kekua-saan Nyak Arif dibatalkan karena tuntutan Teuku Nyak Arif. Kontrolir, polisi dipindahkan karena tindakannya yang sewenang-wenang dituntut oleh Nyak Arif.

Di dalam gerakan agama ia terkenal dengan prakarsanya menentang Ordonansi Mencatat Perkawinan (sipil) karena hal itu bertentangan dengan agama Islam dan tak ada manfaatnya di-jalankan di Aceh yang penduduknya hampir semuanya beragama Islam. Ia mendukung Muhammadiyah, termasuk Hizbul Wathan dan pemuda Muhammadiyah. Ia menyokong Taman Siswa dengan terang-terangan sebagai donatur tetap. Pada waktu Taman Siswa menentang Ordonansi Sekolah Liar Teuku Nyak Arif membantu aksi perlawanan Taman Siswa dengan gigih. Pendeknya hampir segala kegiatan masyaratan yang bersifat sosial politis ekonomis untuk kepentingan nasional, pastilah disokong oleh Nyak Arif atau dialah yang justru memprakarsainya. Ber-dirinya Beasiswa Aceh diprakarsai dan diketuai olehnya berhasil mengirimkan siswa-siswa ke Perguruan Tinggi.

Pada saat Belanda dalam keadaan lemah karena menghadapi serbuan Hitler dalam Perang Dunia II, Nyak Arif dengan cekatan menggunakan kesempatan yang baik itu. Pada pertemuan pemim-pin-pemimpin masyarakat, agama dan partai-partai politik, pada waktu memperingati wafatnya Dr. Sutomo, Teuku Nyak Arif ber-bicara dengan berkobar-kobar menanam semangat kebangsaan yang tahan uji dan sanggup mencapai kemerdekaan. Pada akhir pidatonya ia mengajak semua yang hadir bersumpah, mengikuti sumpah yang diucapkannya. Ia disumpah oleh Haji Abdullah Lam U, mengucapkan:

"Walah, Bilah, Tallah.

Saya berjanji setia kepada tanah air, bangsa dan agama, dan tidak mengkhianati perjuangan." Semua yang hadir mengikuti sumpah Nyak Arif termasuk Tengku Daud Beureuh, Teuku Cut Hasan, Tengku Syekh Ibrahim Lamnga, Tengku H. Abdullah In-drapuri dan Tengku H. Abdulah Lam U. Demikianlah gambaran kegiatan dan wibawa Teuku Nyak Arif di dalam masyarakat luas di Aceh.

Pada akhir 1941 Jepang menyerbu Malaya. Penang jatuh pada 19 Desember 1941, Ipoh pada 28 Desember dan pada 11 Januari 1942 Kualalumpur dan Singapore jatuh pula. Kemudian pada 22 Januari 1942 Sabang dibom dengan hebat dan kapal Belanda Hr. Ms. Wegu ditenggelamkan di pelabuhan Ulee-lee. Keadaan menjepit menghimpit Belanda dan rakyat Aceh mulai bangkit bersiap-siap menjelang datangnya Jepang.
Pemberontakan terjadi di Seubimeum. Orang-orang Eropa di Banda Aceh diungsikan ke Medan. Kontrolir Tiggelman dibunuh. Kepala jawatan keretaapi van Sperling dibunuh. Hubungan tilpon dengan Medan diputuskan. Rel-rel di Indrapuri dibongkar. Di Banda Aceh diumumkan jam malam.

Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUSA yang diketuai oleh Tengku Daud Beureuh. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan na-sional.

Keadaan makin lama makin memuncak. Pada 8 Maret 1942 residen Aceh mengadakan pertemuan politik dengan Tuanku Mahmud dan Teuku Nyak Arif. Permintaan Nyak Arif agar pemerintah diserahkan kepadanya ditolak oleh residen. Perte-muan lanjutan pada 10 dan 11 Maret 1942 diundang 9 pemimpin-pemimpin Aceh, namun Nyak Arif tidak hadir. Ternyata 8 orang pemimpin yang hadir semuanya ditangkap. Rumah Nyak Arif di Lam Nyong diserbu, namun Nyak Arif tak diketemukan dan keluarganya sempat meninggalkan rumahnya sebelum diserbu Belanda. Kolonel Gozenson panglima militer di Aceh berusaha sungguh-sungguh untuk menangkap Nyak Arif, tapi tidak berhasil. Pemimpin-pemimpin lainnya, Cut Hasan Mauraxa, Hanafiah dan Raja Abdullah berhasil ditangkap.

Pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Sabang, kemudian Mayor Jenderal Overakker dan Kolonel Gazenson menyerah kepada Jepang pada 28 Maret 1942. Sementara itu rakyat telah membentuk "Komite Pemerintahan daerah Aceh" dengan Teuku Nyak Arif sebagai ketuanya.

Jepang mengatur pemerintahan di Indonesia dengan pem-bagian yang berbeda dengan Belanda. Sumatera dan Kalimantan digabungkan dengan Malaya, dikuasai oleh tentara XXV. Jawa dikuasai oleh tentara XVI dan Indonesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut. Sumatera dibagi menjadi 9 karesidenan, masing-masing dikepalai oleh residen Jepang (Cookang). Di Aceh Jepang menggunakan kaum Uleebalang dalam pemerintahan. Hal ini menimbulkan kekecewaan kepada PUSA yang merasa berjasa kepada Jepang, tetapi hanya dipakai untuk bidang keagamaan.

Teuku Nyak Arif menempuh jalan kerjasama dengan Jepang. Ia diangkat menjadi penasehat pemerintahan militer Jepang. Sebenarnya Nyak Arif tidak menaruh kepercayaannya kepada Jepang. Ucapannya yang terkenal ialah: "Kita usir anjing, datang babi." Belanda pergi Jepang datang, demikianlah maksud ucapan itu. Dua-duanya sama-sama busuknya.

Seperti pula terjadi di semua tempat, di Aceh pun Jepang ber-tindak kejam. Rakyat ditindas dan semuanya dikerahkan untuk kemenangan perangnya. Pangan dan sandang amat kurang. Maka terjadilah pada tahun 1942 pemberontakan yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil di Cot Pliing. Jepang menyerbu pemberontak yang sedang menjalankan shalat Subuh, namun serangan Jepang itu mengalami perlawanan sengit sekali. Jepang mundur, kemu-dian menyerang untuk kedua kalinya yang mengalami nasib yang sama. Baru yang ketiga kalinya serangan Jepang berhasil. Mesjid dibakar. Teuku Jalil dapat meloloskan diri, tetapi akhirnya pun terbunuh di waktu ia sedang bersembahyang.

Pemerintah Jepang mengadakan Dewan Perwakilan Rakyat yang disebut "Aceh Syiu Sangikai." Nyak Arif dipilih menjadi ke-tuanya. Pada tahun 1943 sebagai ketua itu Nyak Arif diundang ke Tokio bersama 14 orang pemimpin lainnya dari seluruh Sumatera. Pada waktu mau dihadapkan kepada Tenno Heika, Nyak Arif dan Teuku Hasan menolak menjalankan Saekere, memberi hor-mat dengan membungkuk seperti menyembah. Akhirnya disetujui hanya dengan menganggukkan kepala saja di muka Kaisar Jepang.

Sepuluh dari Jepang, dua orang wakil Aceh tersebut disuruh berpidato di muka mesjid raya Banda Aceh. Pidato mereka memuji kekuatan Jepang, namun banyak sindiran, bahkan ejekan. Di lain kesempatan Teuku Hasan mengatakan Jepang itu di negerinya baik-baik, sedang di Indonesia mereka jahat dan jelek. Oleh karena itu ia ditangkap, kemudian dibunuh.


BACA JUGA 




Di zaman penuh kesulitan, rakyat banyak sekali mengalami penderitaan dan perlakuan tidak adil. Tidak sedikit orang yang mengadukan nasibnya kepada Teuku Nyak Arif dan ia pun sering-kali banyak bertindak. Gedung Yatim Piatu Muhammadiyah akan digunakan asrama tentara Jepang. Atas bantuan Nyak Arif Maksud Jepang itu dapat dicegah. Ia banyak sekali melemparkan kritik kepada tindakan Ken petai dan residen pula. Nyak Arif memang disegani oleh Jepang. Meskipun ia keras dan banyak ben-trok dengan pejabat-pejabat Jepang sipil dan militer, namun pemerintah Jepang mau tidak mau harus memperhitungkan dia sebagai pemimpin rakyat Aceh yang besar pengaruhnya.

Pada tahun 1944 Nyak Arif dipilih menjadi wakil ketua "Sumatera Chuo Sangi In" (Dewan Perwakilan Rakyat seluruh Sumatera) yang diketuai oleh Moh. Syafei. Ia berpendirian, kerja-sama dengan Jepang harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Dalam pidatonya pada bulan Maret 1945 antara lain ia katakan:

" Sumatera Chuo Sangi In akan membawa kita bersama secepat mungkin ke arah yang kita ingini hanyalah dengan penghargaan dan bekerjasama dari seluruh penduduk pulau Sumtera ini. Persatuan lahir bathin yang kokoh dengan mem-punyai tujuan yang tertentu, yaitu 'Indonesia Merdeka' haruslah menjadi tujuan hidup kita bersama. Kemerdekaan akan tercapai dengan berbagai-bagai pengorbanan, pengorbanan dan pertahanan yang sempurna hanya dapat dilaksanakan oleh rakyat yang segar dan sehat "
Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II disampaikan oleh Chokang Aceh S. Ino kepada pemimpin-pemimpin Aceh, Teuku Nyak Arif, Panglima Polim dan Teuku Daud Beureuh, katanya: "Jepang telah berdamai dengan Sekutu."

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terdengar di Aceh yang disampaikan oleh 2 orang pemuda kepada Teuku Nyak Arif, kemudian didapat berita-berita radiogram dari Adinegoro di Bukittinggi. Pemimpin-pemimpin rakyat mengadakan pertemuan dan membentuk "Komite Nasional Indonesia" (KN1) pada tang-gal 28 Agustus 1945. Teuku Nyak Arif dipilih menjadi ketuanya. Pada tanggal 3 Oktober 1945 Teuku Nyak Arif diangkat oleh pemerintah RI menjadi residen Aceh.

Selanjutnya Teuku Nyak Arif diliputi oleh berbagai kegiatan, baik soal-soal sipil maupun soal-soal keamanan/ketentaraan. Mula-mula dibentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) diketuai oleh Syamaun Gaharu yang kemudian menjadi panglima divisi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Kolonel. Mula-mula Jepang menghalang-halangi API, namun karena ketegasan dan keberanian residen Teuku Nyak Arif yang didukung oleh kaum pemuda dan rakyat, maka akhirnya dapat dilaksanakan penyerahan senjata oleh Syucokan kepada residen RI. Senjata itu kemudian dibagikan kepada TKR dan Polisi Istimewa. PUSA tidak diberi senjata karena bukan badan resmi.

Dalam keadaan peralihan yang serba berat, maka residen Nyak Arif lebih banyak menyerupai pimpinan ketentaraan. Oleh karenanya tugas sipilnya banyak diserahkan kepada wakil residen. Teuku Nyak Arif banyak mengadakan perjalanan keliling mengatur ketentaraan dan khususnya keamanan. Karena jasanya itu ia pada tanggal 17 Januari 1946 ia diangkat menjadi Jenderal Mayor Tituler.

Revolusi masih berjalan terus. Setiap waktu dapat terjadi perobahan yang di luar perhitungan. Di Aceh bergolaklah kembali persaingan antara kaum Ulebalang dan kaum Ulama. Laskar yang terbesar di Aceh adalah Mujahiddin dan Pesindo. Mujahiddin yang di bawah pengaruh kaum agama mempunyai ambisi akan menggantikan residen Nyak Arif. Maksud itu mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat).

Waktu itu Teuku Nyak Arif sedang beristirahat karena penyakit gulanya kambuh. Pimpinan TKR sanggup menghadapi TPR dan Mujahiddin, tetapi Nyak Arif tidak memberikan izin, katanya: "Biarlah saya serahkan jabatan ini, asal tidak terjadi pertumpahan darah seperti di Pidie." Maka dengan secara damai pangkatnya Jenderal Mayor diambilalih oleh Hasan al Mujahid dan pangkat Kolonel Syamaun Gahara diambilalih oleh Husen Yusuf. Demikianlah dikisahkan dalam "Pahlawan Nasional May-jen Teuku Nyak Arif," Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Biografi/Drs. Mardanas Safwan, Pahlawan Nasional, 1976.

Nyak Arif ditangkap secara baik dan terhormat, dibawa dengan kendaraan sedan dan dikawal oleh 2 orang anggota TPR yang berpakaian hitam-hitam dan memakai topeng. Para pemim-pin terkemuka di Lam Nyong mengusulkan agar Teuku Nyak Arif diistirahatkan di sana, tetapi Nyak Arif menolak karena khawatir rakyat Lam Nyong akan membelanya dengan kekerasan. Semua langkah dan pikiran ditetapkan untuk Nyak Arif selalu ditetapkan untuk menghindari pertempuran sesama kita, dan untuk maksud itu ia ikhlas berkorban. Korbannya terutama tidak lain ialah kedudukan dan pangkat yang ia ikhlaskan untuk mencegah pertempuran yang akan berakibat parah untuk kesatuan dan per-satuan rakyat, sebab revolusi belum selesai. Rakyat harus tetap bersatu menghadapi segala kemungkinan.

Teuku Nyak Arif dibawa beristirahat di Takengon. Sebulan kemudian keluarga diizinkan menjenguknya. Sementara itu penyakit gulanya makin parah dan sebelum hayatnya berakhir ia berpesan kepada keluarganya: "Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya."

Teuku Nyak Arif, pemimpin rakyat yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara dengan jasa-jasanya yang besar dan dengan keikhlasannya berkorban, pada tanggal 26 April 1946 wafat dengan tenang di Takengon, Jenazahnya dikebumikan di makam keluarganya di Lam Nyong.

Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden No. 071 /TK/Tahun 1974 tanggal 9 Nopember 1974 menganugerahi Teuku Nyak Arif gelar Pahlawan Nasional.